Kategori: Gaya Hidup

  • Kapolri Minta Doa Habib Umar bin Hafidz, Kapolri Komitmen Hadirkan Pelayanan Polri yang Humanis

    Kapolri Minta Doa Habib Umar bin Hafidz, Kapolri Komitmen Hadirkan Pelayanan Polri yang Humanis

    Tribratanews.polri.go.id – JAKARTA – Kapolri Jenderal Polisi Dr. (H.C.) Suyudi Ario Seto, S.I.K., S.H., M.Si. bersilaturahmi dengan ulama Habib Umar bin Hafidz di Masjid Al Ikhlas, Mabes Polri, Jakarta, Selasa (13/10/2026). Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk mempererat hubungan antara ulama dan Polri dalam memperkuat nilai keimanan, menjaga persatuan, serta mendukung terciptanya keamanan dan kedamaian di tengah masyarakat.

    Dalam kesempatan tersebut, Kapolri menyampaikan bahwa tugas kepolisian sebagai pengayom masyarakat memiliki tantangan yang berat dan kompleks. Karena itu, Polri membutuhkan nasihat dan doa dari para ulama sebagai penguat dalam menjalankan amanah serta tanggung jawab kepada bangsa dan negara.

    “Sebagai pengayom masyarakat, tugas kepolisian tentu sangat berat dan kompleks. Oleh karena itu, kami membutuhkan nasihat dan doa dari para ulama, khususnya Habib Umar bin Hafidz,” ujar Suyudi, Selasa (13/10/2026).

    Sementara itu, Habib Umar bin Hafidz menyampaikan harapannya terhadap kepemimpinan Kapolri yang menjunjung tinggi nilai-nilai keimanan. Menurutnya, keteladanan seorang pemimpin memiliki arti penting karena dapat memberikan pengaruh positif bagi seluruh anggota kepolisian dalam menjalankan tugas pengabdian.

    “Apabila pemimpin kepolisian dengan keimanan yang semacam ini, maka harapan kami besar. Ini pun juga akan menular kepada seluruh anggota kepolisian,” ungkap Habib Umar bin Hafidz.

    Silaturahmi ini mencerminkan pentingnya sinergi antara ulama, umaro, dan masyarakat dalam menjaga keutuhan bangsa. Nasihat para ulama diharapkan dapat menjadi penguat moral bagi personel Polri untuk menjalankan tugas dengan integritas, keadilan, dan ketulusan dalam melayani masyarakat.

    Semangat tersebut sejalan dengan prinsip Polisi Bersama Masyarakat, yang menegaskan bahwa menjaga keamanan dan ketertiban bukan hanya menjadi tanggung jawab kepolisian, tetapi juga membutuhkan dukungan serta partisipasi seluruh elemen masyarakat. Melalui sinergi bersama ulama dan masyarakat, Polri berkomitmen untuk terus menghadirkan pelayanan yang humanis serta menjaga situasi kamtibmas yang aman, damai, dan harmonis.

    (ta/hn/rs)

  • Kapolri Minta Doa Habib Umar bin Hafidz, Kapolri Komitmen Hadirkan Pelayanan Polri yang Humanis

    Kapolri Minta Doa Habib Umar bin Hafidz, Kapolri Komitmen Hadirkan Pelayanan Polri yang Humanis

    Tribratanews.polri.go.id – JAKARTA – Kapolri Jenderal Polisi Dr. (H.C.) Suyudi Ario Seto, S.I.K., S.H., M.Si. bersilaturahmi dengan ulama Habib Umar bin Hafidz di Masjid Al Ikhlas, Mabes Polri, Jakarta, Selasa (13/10/2026). Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk mempererat hubungan antara ulama dan Polri dalam memperkuat nilai keimanan, menjaga persatuan, serta mendukung terciptanya keamanan dan kedamaian di tengah masyarakat.

    Dalam kesempatan tersebut, Kapolri menyampaikan bahwa tugas kepolisian sebagai pengayom masyarakat memiliki tantangan yang berat dan kompleks. Karena itu, Polri membutuhkan nasihat dan doa dari para ulama sebagai penguat dalam menjalankan amanah serta tanggung jawab kepada bangsa dan negara.

    “Sebagai pengayom masyarakat, tugas kepolisian tentu sangat berat dan kompleks. Oleh karena itu, kami membutuhkan nasihat dan doa dari para ulama, khususnya Habib Umar bin Hafidz,” ujar Suyudi, Selasa (13/10/2026).

    Sementara itu, Habib Umar bin Hafidz menyampaikan harapannya terhadap kepemimpinan Kapolri yang menjunjung tinggi nilai-nilai keimanan. Menurutnya, keteladanan seorang pemimpin memiliki arti penting karena dapat memberikan pengaruh positif bagi seluruh anggota kepolisian dalam menjalankan tugas pengabdian.

    “Apabila pemimpin kepolisian dengan keimanan yang semacam ini, maka harapan kami besar. Ini pun juga akan menular kepada seluruh anggota kepolisian,” ungkap Habib Umar bin Hafidz.

    Silaturahmi ini mencerminkan pentingnya sinergi antara ulama, umaro, dan masyarakat dalam menjaga keutuhan bangsa. Nasihat para ulama diharapkan dapat menjadi penguat moral bagi personel Polri untuk menjalankan tugas dengan integritas, keadilan, dan ketulusan dalam melayani masyarakat.

    Semangat tersebut sejalan dengan prinsip Polisi Bersama Masyarakat, yang menegaskan bahwa menjaga keamanan dan ketertiban bukan hanya menjadi tanggung jawab kepolisian, tetapi juga membutuhkan dukungan serta partisipasi seluruh elemen masyarakat. Melalui sinergi bersama ulama dan masyarakat, Polri berkomitmen untuk terus menghadirkan pelayanan yang humanis serta menjaga situasi kamtibmas yang aman, damai, dan harmonis.

    (ta/hn/rs)

  • Kapolda Metro Dorong Siswa Korban Perundungan Berani Lapor dan Minta Tolong

    Kapolda Metro Dorong Siswa Korban Perundungan Berani Lapor dan Minta Tolong

    Foto: Kapolda Metro Jaya Komjen Dadang Hartanto berkunjung ke SDN Gunung 01 Kebayoran Baru, Jaksel. (dok. Polda Metro Jaya)

    Jakarta – Kapolda Metro Jaya Komjen Dadang Hartanto mengajak siswa Sekolah Dasar (SD) untuk berani speak up jika terjadi bullying. Jenderal bintang tiga itu juga mengimbau para siswa untuk saling peduli dan menanamkan kasih sayang terhadap sesama teman.
    Hal itu disampaikan oleh Komjen Dadang Hartanto saat berkunjung ke SDN Gunung 01 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (12/10/2026). Dalam kunjungannya, Komjen Dadang didampingi oleh sejumlah pejabat utama (PJU) Polda Metro Jaya.

    Pada kesempatan itu, Kapolda memberikan edukasi kepada para pelajar SD tentang bullying atau perundungan. Dalam pencegahan perundungan, siswa dikenalkan pada berbagai bentuk tindakan yang dapat menyakiti teman, mulai dari memukul, mengejek, mengucilkan, hingga mempermalukan melalui media sosial.

    Selain itu, anak-anak juga diingatkan untuk tidak ikut menertawakan teman yang mengalami perundungan, melainkan membantu dengan cara yang aman dan segera memberitahukannya kepada guru.

    “Bercerita bukan mengadu, tetapi mencari pertolongan,” demikian pesan Kapolda dalam penyuluhan.

    Kapolda Metro Jaya Komjen Dadang Hartanto berkunjung ke SDN Gunung 01 Kebayoran Baru, Jaksel, Senin (12/10/2026). Foto: dok. Polda Metro Jaya
    Kapolda juga mendorong anak-anak agar berani meminta bantuan kepada orang tua, guru, atau orang dewasa yang dipercaya ketika mengalami perundungan, tersesat, maupun menghadapi kesulitan. Layanan Polisi 110 turut dikenalkan sebagai sarana meminta bantuan kepolisian yang dapat dihubungi dengan pendampingan guru atau orang tua.

    Kegiatan tersebut menjadi komitmen ‘Polisi Bersama Masyarakat’. Kegiatan ini juga menjadi bagian edukasi untuk membentuk karakter anak-anak bangsa sebagai generasi penerus di masa yang akan datang.

    Pembentukan karakter turut dikenalkan melalui perilaku sederhana di sekolah dan tempat umum, seperti membiasakan antre, menghormati orang lain, mengingatkan kesalahan dengan cara yang baik, serta menolong teman yang mengalami kesulitan. Anak-anak diajak menghargai perbedaan, bermain bersama tanpa mengucilkan siapa pun, dan berani meminta maaf serta memperbaiki diri ketika berbuat salah.

    Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menekankan pentingnya dukungan guru dan orang tua agar anak merasa aman untuk menyampaikan masalah serta memperoleh bantuan yang tepat.

    “Sejalan dengan semangat Polisi Bersama Masyarakat, edukasi ini diharapkan mempererat kerja sama kepolisian, sekolah, dan keluarga dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Setiap anak perlu merasa didengar dan mengetahui bahwa mereka tidak harus menghadapi kesulitan seorang diri,” kata Budi Hermanto.

  • Kapolda Metro Dorong Siswa Korban Perundungan Berani Lapor dan Minta Tolong

    Kapolda Metro Dorong Siswa Korban Perundungan Berani Lapor dan Minta Tolong

    Foto: Kapolda Metro Jaya Komjen Dadang Hartanto berkunjung ke SDN Gunung 01 Kebayoran Baru, Jaksel. (dok. Polda Metro Jaya)

    Jakarta – Kapolda Metro Jaya Komjen Dadang Hartanto mengajak siswa Sekolah Dasar (SD) untuk berani speak up jika terjadi bullying. Jenderal bintang tiga itu juga mengimbau para siswa untuk saling peduli dan menanamkan kasih sayang terhadap sesama teman.
    Hal itu disampaikan oleh Komjen Dadang Hartanto saat berkunjung ke SDN Gunung 01 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (12/10/2026). Dalam kunjungannya, Komjen Dadang didampingi oleh sejumlah pejabat utama (PJU) Polda Metro Jaya.

    Pada kesempatan itu, Kapolda memberikan edukasi kepada para pelajar SD tentang bullying atau perundungan. Dalam pencegahan perundungan, siswa dikenalkan pada berbagai bentuk tindakan yang dapat menyakiti teman, mulai dari memukul, mengejek, mengucilkan, hingga mempermalukan melalui media sosial.

    Selain itu, anak-anak juga diingatkan untuk tidak ikut menertawakan teman yang mengalami perundungan, melainkan membantu dengan cara yang aman dan segera memberitahukannya kepada guru.

    “Bercerita bukan mengadu, tetapi mencari pertolongan,” demikian pesan Kapolda dalam penyuluhan.

    Kapolda Metro Jaya Komjen Dadang Hartanto berkunjung ke SDN Gunung 01 Kebayoran Baru, Jaksel, Senin (12/10/2026). Foto: dok. Polda Metro Jaya
    Kapolda juga mendorong anak-anak agar berani meminta bantuan kepada orang tua, guru, atau orang dewasa yang dipercaya ketika mengalami perundungan, tersesat, maupun menghadapi kesulitan. Layanan Polisi 110 turut dikenalkan sebagai sarana meminta bantuan kepolisian yang dapat dihubungi dengan pendampingan guru atau orang tua.

    Kegiatan tersebut menjadi komitmen ‘Polisi Bersama Masyarakat’. Kegiatan ini juga menjadi bagian edukasi untuk membentuk karakter anak-anak bangsa sebagai generasi penerus di masa yang akan datang.

    Pembentukan karakter turut dikenalkan melalui perilaku sederhana di sekolah dan tempat umum, seperti membiasakan antre, menghormati orang lain, mengingatkan kesalahan dengan cara yang baik, serta menolong teman yang mengalami kesulitan. Anak-anak diajak menghargai perbedaan, bermain bersama tanpa mengucilkan siapa pun, dan berani meminta maaf serta memperbaiki diri ketika berbuat salah.

    Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menekankan pentingnya dukungan guru dan orang tua agar anak merasa aman untuk menyampaikan masalah serta memperoleh bantuan yang tepat.

    “Sejalan dengan semangat Polisi Bersama Masyarakat, edukasi ini diharapkan mempererat kerja sama kepolisian, sekolah, dan keluarga dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Setiap anak perlu merasa didengar dan mengetahui bahwa mereka tidak harus menghadapi kesulitan seorang diri,” kata Budi Hermanto.

  • Kenal Pamit Kapolda Sumsel, Gubernur Sumsel Herman Deru Dedikasi Komjen Sandi Nugroho

    Kenal Pamit Kapolda Sumsel, HD Apresiasi Dedikasi Komjen Sandi Nugroho

    Palembang – Gubernur Herman Deru didampingi Wakil Gubernur Sumatera Selatan Cik Ujang menghadiri acara Malam Kenal Pamit Kapolda Sumsel dari Komjen Pol Dr. Sandi Nugroho, S.I.K., S.H., M.Hum. kepada Irjen Pol Rony Samtana, S.I.K., M.T.C.P. pada Jumat malam (9/10/2026).

    Dalam sambutannya, Herman Deru menyampaikan perasaan bangga sekaligus haru atas purna tugas Komjen Pol Sandi Nugroho di Bumi Sriwijaya, serta menyambut hangat kehadiran pejabat Kapolda Sumsel yang baru.

    “Di satu sisi kami merasa bahagia atas hadirnya Kapolda yang baru, namun di sisi lain kami merasa kehilangan. Kendati demikian, kami turut bersuka cita karena Pak Sandi Nugroho mendapatkan promosi dan naik pangkat menjadi jenderal bintang tiga,” ujar Herman Deru.

    Herman Deru juga menyampaikan terima kasih yang mendalam atas pengabdian dan dedikasi Komjen Pol Sandi Nugroho selama delapan bulan bertugas di Sumsel, yang dinilai telah memberikan banyak kontribusi nyata bagi keamanan dan kemajuan masyarakat.

    “Selama ini kerja sama terjalin begitu baik. Semoga hubungan harmonis ini terus terjalin erat untuk bersama-sama mengatasi berbagai tantangan di Sumatera Selatan,” tambahnya.

    Sementara itu, Kapolda Sumsel yang baru, Irjen Pol Rony Samtana, S.I.K., M.T.C.P., menyampaikan apresiasi atas dedikasi pendahulunya selama memimpin jajaran Kepolisian Daerah Sumsel.

    “Kami mohon dukungan dan bimbingannya untuk mengabdi serta diterima menjadi bagian dari warga Sumsel dalam menjalankan tugas di Bumi Sriwijaya,” ungkap Irjen Pol Rony Samtana.

    Guna menjaga stabilitas wilayah, Irjen Pol Rony Samtana menegaskan komitmennya untuk mengedepankan upaya pencegahan serta penegakan hukum yang tegas, profesional, dan humanis demi menjamin rasa aman bagi seluruh lapisan masyarakat.

    Turut hadir Forkopimda dan Bupati/Walikota Se Sumatera Selatan.

  • Kenal Pamit Kapolda Sumsel, Gubernur Sumsel Herman Deru Dedikasi Komjen Sandi Nugroho

    Kenal Pamit Kapolda Sumsel, HD Apresiasi Dedikasi Komjen Sandi Nugroho

    Palembang – Gubernur Herman Deru didampingi Wakil Gubernur Sumatera Selatan Cik Ujang menghadiri acara Malam Kenal Pamit Kapolda Sumsel dari Komjen Pol Dr. Sandi Nugroho, S.I.K., S.H., M.Hum. kepada Irjen Pol Rony Samtana, S.I.K., M.T.C.P. pada Jumat malam (9/10/2026).

    Dalam sambutannya, Herman Deru menyampaikan perasaan bangga sekaligus haru atas purna tugas Komjen Pol Sandi Nugroho di Bumi Sriwijaya, serta menyambut hangat kehadiran pejabat Kapolda Sumsel yang baru.

    “Di satu sisi kami merasa bahagia atas hadirnya Kapolda yang baru, namun di sisi lain kami merasa kehilangan. Kendati demikian, kami turut bersuka cita karena Pak Sandi Nugroho mendapatkan promosi dan naik pangkat menjadi jenderal bintang tiga,” ujar Herman Deru.

    Herman Deru juga menyampaikan terima kasih yang mendalam atas pengabdian dan dedikasi Komjen Pol Sandi Nugroho selama delapan bulan bertugas di Sumsel, yang dinilai telah memberikan banyak kontribusi nyata bagi keamanan dan kemajuan masyarakat.

    “Selama ini kerja sama terjalin begitu baik. Semoga hubungan harmonis ini terus terjalin erat untuk bersama-sama mengatasi berbagai tantangan di Sumatera Selatan,” tambahnya.

    Sementara itu, Kapolda Sumsel yang baru, Irjen Pol Rony Samtana, S.I.K., M.T.C.P., menyampaikan apresiasi atas dedikasi pendahulunya selama memimpin jajaran Kepolisian Daerah Sumsel.

    “Kami mohon dukungan dan bimbingannya untuk mengabdi serta diterima menjadi bagian dari warga Sumsel dalam menjalankan tugas di Bumi Sriwijaya,” ungkap Irjen Pol Rony Samtana.

    Guna menjaga stabilitas wilayah, Irjen Pol Rony Samtana menegaskan komitmennya untuk mengedepankan upaya pencegahan serta penegakan hukum yang tegas, profesional, dan humanis demi menjamin rasa aman bagi seluruh lapisan masyarakat.

    Turut hadir Forkopimda dan Bupati/Walikota Se Sumatera Selatan.

  • Makna Angka 88 Mutasi dan Polisi Bersama Masyarakat Kapolri Suyudi: Tegak Lurus Presiden Prabowo

    Makna Angka 88 Mutasi dan Polisi Bersama Masyarakat Kapolri Suyudi: Tegak Lurus Presiden Prabowo

    Dalam pembacaan simbolik, 88 dapat dimaknai sebagai penegasan ganda atas arah 08: bahwa kepemimpinan Polri di bawah Suyudi hendak bergerak dalam garis pemerintahan Presiden Prabowo

    Makna Angka 88 Mutasi dan Polisi Bersama Masyarakat Kapolri Suyudi: Tegak Lurus Presiden Prabowo

    Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto bersama Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Dok Polri)

    JAKARTA – Pergantian kepemimpinan hampir selalu diikuti penataan organisasi. Namun, langkah pertama Jenderal Pol. Suyudi Ario Seto setelah resmi menjabat Kapolri menarik dibaca lebih jauh. Hanya sehari setelah dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 1 Oktober 2026, Suyudi melakukan mutasi dan rotasi terhadap 88 perwira tinggi dan perwira menengah Polri melalui ST/2205/X/KEP./2026 tertanggal 2 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, 70 personel memperoleh promosi atau jabatan baru, termasuk perubahan pada 14 jabatan pejabat utama Mabes Polri dan 19 Kapolda.

    Secara administratif, Polri menjelaskan mutasi tersebut sebagai dinamika organisasi, pembinaan karier, penyegaran, sekaligus bagian dari percepatan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Tetapi dalam politik pemerintahan, angka, momentum, dan keputusan personalia sering kali juga mengundang pembacaan simbolik.

    Di sinilah angka 88 menjadi menarik. Prabowo sejak lama identik dengan sandi 08, sebuah kode yang melekat sejak perjalanan militernya dan terus dikenal hingga memasuki gelanggang politik nasional. Bahkan Prabowo sendiri pernah berkelakar mengenai kedekatan angka tersebut dengan posisinya sebagai Presiden Republik Indonesia ke-8.

    Apakah 88 personel yang dimutasi Suyudi sengaja dipilih untuk mengirim pesan penghormatan kepada Prabowo? Tidak ada keterangan resmi Polri yang menyatakan demikian. Karena itu, menganggapnya sebagai fakta tentu terlalu jauh. Tetapi sebagai simbol politik, kebetulan tersebut sulit untuk tidak menarik perhatian: dua angka delapan berdiri berdampingan pada keputusan besar pertama Kapolri baru.

    Dalam pembacaan simbolik, 88 dapat dimaknai sebagai penegasan ganda atas arah 08: bahwa kepemimpinan Polri di bawah Suyudi hendak bergerak dalam garis pemerintahan Presiden Prabowo. Bukan sekadar loyalitas personal seorang Kapolri kepada Presiden yang mengangkatnya, melainkan kesatuan arah antara kebijakan keamanan dengan agenda pemerintahan.

    Loyalitas Bukan Sekadar Kepada Orang

    Pembacaan tersebut dapat ditempatkan dalam kerangka klasik The Philosophy of Loyalty dari Josiah Royce (1908). Bagi Royce, loyalitas bukan sekadar kepatuhan kepada seseorang. Loyalitas merupakan pengabdian yang sadar, praktis, dan konsisten kepada suatu cause atau tujuan yang dianggap lebih besar daripada kepentingan individual.

    Dalam negara demokratis, loyalitas Kapolri kepada Presiden harus dibaca sebagai loyalitas institusional-konstitusional: Presiden memegang mandat pemerintahan, sementara Polri menjadi salah satu instrumen negara untuk memastikan keamanan, ketertiban, penegakan hukum, dan pelayanan kepada masyarakat berjalan menuju tujuan nasional.

    Karena itu, bila hendak membaca loyalitas Suyudi kepada Prabowo, ukurannya bukan seberapa sering Kapolri menunjukkan kedekatan dengan Presiden. Ukurannya justru seberapa cepat arah kebijakan Presiden diterjemahkan menjadi keamanan dan pelayanan yang dirasakan rakyat.

    Prabowo sejak pidato pelantikannya menempatkan kepentingan rakyat sebagai orientasi kekuasaan. Ia menegaskan bahwa kekuasaan harus dijalankan untuk kepentingan rakyat. Dalam kebijakan pemerintahannya pun orientasi pemerataan dan manfaat pembangunan bagi rakyat kembali ditekankan.

    Di titik itulah arah Suyudi dan Prabowo menemukan garis pertemuannya.

    19 Kapolda dan Infrastruktur 100 Hari

    Mutasi 88 personel juga tidak tepat dibaca semata sebagai pergantian nama. Yang lebih substantif adalah arsitektur komando yang sedang dibangun.

    Pergantian 19 Kapolda berarti perubahan menyentuh hampir dua pertiga kepolisian daerah. Ini penting karena keberhasilan program Kapolri tidak ditentukan hanya oleh Mabes Polri. Wajah kepolisian yang sesungguhnya justru paling sering ditemui masyarakat di Polda, Polres, hingga Polsek.

    Suyudi telah merancang program 100 hari dalam tiga tahapan: hari 1–30 untuk mengetahui kondisi aktual dan membangun baseline; hari 31–60 untuk menguji perbaikan; dan hari 61–100 untuk menunjukkan hasil sekaligus melakukan koreksi. Pada tahap awal, perhatian diarahkan antara lain pada penerimaan laporan masyarakat, respons layanan 110, tunggakan dan perkembangan perkara, pengaduan, perlindungan kelompok rentan, kesiapan Polres-Polsek, serta pemetaan kejahatan berdampak tinggi.

    Dengan kerangka tersebut, pergantian Kapolda dapat dibaca sebagai upaya menyiapkan mesin pelaksana bagi agenda 100 hari. Sebuah program percepatan akan sulit berhasil apabila pucuk pimpinan menghendaki perubahan tetapi rantai komandonya tidak bergerak dengan kecepatan dan orientasi yang sama.

    Artinya, mutasi besar ini menghadirkan ujian sekaligus. Jika setelah pergantian pejabat pelayanan publik membaik, respons kepolisian semakin cepat, penyelesaian perkara lebih pasti, ruang publik lebih aman dan keluhan masyarakat berkurang, mutasi itu memperoleh legitimasi melalui hasil. Sebaliknya, jika perubahan berhenti pada rotasi kursi, simbol 88 kehilangan maknanya.

    Prabowo Berbicara Rakyat, Suyudi Menjawab dengan Polisi Bersama Masyarakat

    Kesamaan paling menarik justru terlihat pada bahasa kepemimpinan keduanya.

    Prabowo berkali-kali menempatkan rakyat sebagai tujuan penyelenggaraan kekuasaan. Dalam pidato pelantikannya, Presiden menegaskan bahwa pemimpin harus bekerja untuk rakyat dan kepentingan rakyat harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

    Suyudi datang dengan bahasa yang senada: “Polisi Bersama Masyarakat.”

    Dlam uji kelayakan dan kepatutan, ia menegaskan bahwa Polri yang kuat bukanlah Polri yang ditakuti, melainkan yang dipercaya; kewibawaan tidak lahir karena polisi menjaga jarak, tetapi karena hadir bersama rakyat ketika negara dibutuhkan.

    Ini lebih dari permainan slogan apabila diterjemahkan menjadi cara kerja.

    Jika Prabowo menempatkan rakyat sebagai orientasi pemerintahan, Suyudi menempatkan masyarakat sebagai pusat orientasi kepolisian. Yang satu bekerja pada aras pemerintahan nasional, yang lain menerjemahkannya pada aras keamanan, hukum dan pelayanan publik.

    Dari Sufmi Dasco Ahmad dan Politik yang Bernama Loyalitas

    Karena itu, “Polisi Bersama Masyarakat” dapat menjadi jembatan antara agenda Presiden dan reformasi pelayanan kepolisian: negara tidak cukup hanya hadir melalui kebijakan dari Jakarta, tetapi harus terasa ketika warga datang ke SPKT, menelepon 110, melaporkan tindak pidana, meminta perlindungan, atau membutuhkan polisi di tengah keadaan darurat.

    Tegak Lurus yang Menemukan Pembuktian

    Maka makna terpenting dari 88 mutasi bukanlah numerologinya.

    Angka 88 boleh dibaca sebagai simbol menarik tentang “08” yang digandakan—sebuah penghormatan simbolik kepada Presiden Prabowo dan pesan mengenai kesatuan arah kepemimpinan. Tetapi simbol memperoleh bobot politik hanya ketika dibuktikan oleh tindakan.

    Loyalitas Suyudi kepada Presiden justru akan menemukan bentuk tertingginya apabila ia berhasil menjalankan amanat pemerintahan melalui kepolisian yang semakin profesional, cepat, bersih, tegas dalam hukum, tetapi dekat dalam pelayanan.

    Dalam perspektif Royce, loyalitas yang bernilai memang tidak berhenti kepada figur. Ia mengabdi kepada cause. Dalam konteks Indonesia, cause itu seharusnya jelas: kepentingan negara, hukum, dan terutama rakyat.

    Karena itu, garis yang sedang dibangun Suyudi dapat dibaca dalam tiga lapis: tegak lurus secara konstitusional kepada Presiden, teguh secara institusional dalam menegakkan hukum, dan bergerak horizontal bersama rakyat.

    Di sanalah angka 88 menemukan tafsir yang lebih substantif. Bukan sekadar dua angka delapan. Bukan pula sekadar 88 nama dalam surat telegram.

    Tetapi sebuah pesan awal bahwa di bawah Presiden yang lekat dengan 08, Kapolri Suyudisedang membangun barisan yang diharapkan bergerak dalam satu arah: Presiden bekerja untuk rakyat, dan polisi hadir bersama masyarakat. (*)

    Ditulis oleh: Choirul Anam, SE, SH, ME, Ak, PhD, CA, CFA, CIISA, CHRA, CSBA, CLA. Penulis adalah Peneliti Kebijakan publik Charles University, Praha.

     

  • Makna Angka 88 Mutasi dan Polisi Bersama Masyarakat Kapolri Suyudi: Tegak Lurus Presiden Prabowo

    Makna Angka 88 Mutasi dan Polisi Bersama Masyarakat Kapolri Suyudi: Tegak Lurus Presiden Prabowo

    Dalam pembacaan simbolik, 88 dapat dimaknai sebagai penegasan ganda atas arah 08: bahwa kepemimpinan Polri di bawah Suyudi hendak bergerak dalam garis pemerintahan Presiden Prabowo

    Makna Angka 88 Mutasi dan Polisi Bersama Masyarakat Kapolri Suyudi: Tegak Lurus Presiden Prabowo

    Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto bersama Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Dok Polri)

    JAKARTA – Pergantian kepemimpinan hampir selalu diikuti penataan organisasi. Namun, langkah pertama Jenderal Pol. Suyudi Ario Seto setelah resmi menjabat Kapolri menarik dibaca lebih jauh. Hanya sehari setelah dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 1 Oktober 2026, Suyudi melakukan mutasi dan rotasi terhadap 88 perwira tinggi dan perwira menengah Polri melalui ST/2205/X/KEP./2026 tertanggal 2 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, 70 personel memperoleh promosi atau jabatan baru, termasuk perubahan pada 14 jabatan pejabat utama Mabes Polri dan 19 Kapolda.

    Secara administratif, Polri menjelaskan mutasi tersebut sebagai dinamika organisasi, pembinaan karier, penyegaran, sekaligus bagian dari percepatan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Tetapi dalam politik pemerintahan, angka, momentum, dan keputusan personalia sering kali juga mengundang pembacaan simbolik.

    Di sinilah angka 88 menjadi menarik. Prabowo sejak lama identik dengan sandi 08, sebuah kode yang melekat sejak perjalanan militernya dan terus dikenal hingga memasuki gelanggang politik nasional. Bahkan Prabowo sendiri pernah berkelakar mengenai kedekatan angka tersebut dengan posisinya sebagai Presiden Republik Indonesia ke-8.

    Apakah 88 personel yang dimutasi Suyudi sengaja dipilih untuk mengirim pesan penghormatan kepada Prabowo? Tidak ada keterangan resmi Polri yang menyatakan demikian. Karena itu, menganggapnya sebagai fakta tentu terlalu jauh. Tetapi sebagai simbol politik, kebetulan tersebut sulit untuk tidak menarik perhatian: dua angka delapan berdiri berdampingan pada keputusan besar pertama Kapolri baru.

    Dalam pembacaan simbolik, 88 dapat dimaknai sebagai penegasan ganda atas arah 08: bahwa kepemimpinan Polri di bawah Suyudi hendak bergerak dalam garis pemerintahan Presiden Prabowo. Bukan sekadar loyalitas personal seorang Kapolri kepada Presiden yang mengangkatnya, melainkan kesatuan arah antara kebijakan keamanan dengan agenda pemerintahan.

    Loyalitas Bukan Sekadar Kepada Orang

    Pembacaan tersebut dapat ditempatkan dalam kerangka klasik The Philosophy of Loyalty dari Josiah Royce (1908). Bagi Royce, loyalitas bukan sekadar kepatuhan kepada seseorang. Loyalitas merupakan pengabdian yang sadar, praktis, dan konsisten kepada suatu cause atau tujuan yang dianggap lebih besar daripada kepentingan individual.

    Dalam negara demokratis, loyalitas Kapolri kepada Presiden harus dibaca sebagai loyalitas institusional-konstitusional: Presiden memegang mandat pemerintahan, sementara Polri menjadi salah satu instrumen negara untuk memastikan keamanan, ketertiban, penegakan hukum, dan pelayanan kepada masyarakat berjalan menuju tujuan nasional.

    Karena itu, bila hendak membaca loyalitas Suyudi kepada Prabowo, ukurannya bukan seberapa sering Kapolri menunjukkan kedekatan dengan Presiden. Ukurannya justru seberapa cepat arah kebijakan Presiden diterjemahkan menjadi keamanan dan pelayanan yang dirasakan rakyat.

    Prabowo sejak pidato pelantikannya menempatkan kepentingan rakyat sebagai orientasi kekuasaan. Ia menegaskan bahwa kekuasaan harus dijalankan untuk kepentingan rakyat. Dalam kebijakan pemerintahannya pun orientasi pemerataan dan manfaat pembangunan bagi rakyat kembali ditekankan.

    Di titik itulah arah Suyudi dan Prabowo menemukan garis pertemuannya.

    19 Kapolda dan Infrastruktur 100 Hari

    Mutasi 88 personel juga tidak tepat dibaca semata sebagai pergantian nama. Yang lebih substantif adalah arsitektur komando yang sedang dibangun.

    Pergantian 19 Kapolda berarti perubahan menyentuh hampir dua pertiga kepolisian daerah. Ini penting karena keberhasilan program Kapolri tidak ditentukan hanya oleh Mabes Polri. Wajah kepolisian yang sesungguhnya justru paling sering ditemui masyarakat di Polda, Polres, hingga Polsek.

    Suyudi telah merancang program 100 hari dalam tiga tahapan: hari 1–30 untuk mengetahui kondisi aktual dan membangun baseline; hari 31–60 untuk menguji perbaikan; dan hari 61–100 untuk menunjukkan hasil sekaligus melakukan koreksi. Pada tahap awal, perhatian diarahkan antara lain pada penerimaan laporan masyarakat, respons layanan 110, tunggakan dan perkembangan perkara, pengaduan, perlindungan kelompok rentan, kesiapan Polres-Polsek, serta pemetaan kejahatan berdampak tinggi.

    Dengan kerangka tersebut, pergantian Kapolda dapat dibaca sebagai upaya menyiapkan mesin pelaksana bagi agenda 100 hari. Sebuah program percepatan akan sulit berhasil apabila pucuk pimpinan menghendaki perubahan tetapi rantai komandonya tidak bergerak dengan kecepatan dan orientasi yang sama.

    Artinya, mutasi besar ini menghadirkan ujian sekaligus. Jika setelah pergantian pejabat pelayanan publik membaik, respons kepolisian semakin cepat, penyelesaian perkara lebih pasti, ruang publik lebih aman dan keluhan masyarakat berkurang, mutasi itu memperoleh legitimasi melalui hasil. Sebaliknya, jika perubahan berhenti pada rotasi kursi, simbol 88 kehilangan maknanya.

    Prabowo Berbicara Rakyat, Suyudi Menjawab dengan Polisi Bersama Masyarakat

    Kesamaan paling menarik justru terlihat pada bahasa kepemimpinan keduanya.

    Prabowo berkali-kali menempatkan rakyat sebagai tujuan penyelenggaraan kekuasaan. Dalam pidato pelantikannya, Presiden menegaskan bahwa pemimpin harus bekerja untuk rakyat dan kepentingan rakyat harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

    Suyudi datang dengan bahasa yang senada: “Polisi Bersama Masyarakat.”

    Dlam uji kelayakan dan kepatutan, ia menegaskan bahwa Polri yang kuat bukanlah Polri yang ditakuti, melainkan yang dipercaya; kewibawaan tidak lahir karena polisi menjaga jarak, tetapi karena hadir bersama rakyat ketika negara dibutuhkan.

    Ini lebih dari permainan slogan apabila diterjemahkan menjadi cara kerja.

    Jika Prabowo menempatkan rakyat sebagai orientasi pemerintahan, Suyudi menempatkan masyarakat sebagai pusat orientasi kepolisian. Yang satu bekerja pada aras pemerintahan nasional, yang lain menerjemahkannya pada aras keamanan, hukum dan pelayanan publik.

    Dari Sufmi Dasco Ahmad dan Politik yang Bernama Loyalitas

    Karena itu, “Polisi Bersama Masyarakat” dapat menjadi jembatan antara agenda Presiden dan reformasi pelayanan kepolisian: negara tidak cukup hanya hadir melalui kebijakan dari Jakarta, tetapi harus terasa ketika warga datang ke SPKT, menelepon 110, melaporkan tindak pidana, meminta perlindungan, atau membutuhkan polisi di tengah keadaan darurat.

    Tegak Lurus yang Menemukan Pembuktian

    Maka makna terpenting dari 88 mutasi bukanlah numerologinya.

    Angka 88 boleh dibaca sebagai simbol menarik tentang “08” yang digandakan—sebuah penghormatan simbolik kepada Presiden Prabowo dan pesan mengenai kesatuan arah kepemimpinan. Tetapi simbol memperoleh bobot politik hanya ketika dibuktikan oleh tindakan.

    Loyalitas Suyudi kepada Presiden justru akan menemukan bentuk tertingginya apabila ia berhasil menjalankan amanat pemerintahan melalui kepolisian yang semakin profesional, cepat, bersih, tegas dalam hukum, tetapi dekat dalam pelayanan.

    Dalam perspektif Royce, loyalitas yang bernilai memang tidak berhenti kepada figur. Ia mengabdi kepada cause. Dalam konteks Indonesia, cause itu seharusnya jelas: kepentingan negara, hukum, dan terutama rakyat.

    Karena itu, garis yang sedang dibangun Suyudi dapat dibaca dalam tiga lapis: tegak lurus secara konstitusional kepada Presiden, teguh secara institusional dalam menegakkan hukum, dan bergerak horizontal bersama rakyat.

    Di sanalah angka 88 menemukan tafsir yang lebih substantif. Bukan sekadar dua angka delapan. Bukan pula sekadar 88 nama dalam surat telegram.

    Tetapi sebuah pesan awal bahwa di bawah Presiden yang lekat dengan 08, Kapolri Suyudisedang membangun barisan yang diharapkan bergerak dalam satu arah: Presiden bekerja untuk rakyat, dan polisi hadir bersama masyarakat. (*)

    Ditulis oleh: Choirul Anam, SE, SH, ME, Ak, PhD, CA, CFA, CIISA, CHRA, CSBA, CLA. Penulis adalah Peneliti Kebijakan publik Charles University, Praha.

     

  • Tokoh Banten Berharap Suyudi Bawa Pengalaman dari Banten ke Polri

    Tokoh Banten Berharap Suyudi Bawa Pengalaman dari Banten ke Polri

    Ketua Umum Mathlaul Anwar KH Embay Mulya Syarief. (Istimewa)

    SERANG – Tokoh masyarakat Banten Embay Mulya Syarief berharap Komjen Pol. Suyudi Ario Seto membawa pengalaman selama memimpin Polda Banten dalam menjalankan tugas sebagai Kapolri. Embay juga berharap Suyudi tetap menjaga kedekatan dengan masyarakat dan memperkuat sinergi dengan berbagai elemen.

    Embay menyampaikan harapan tersebut setelah Komisi III DPR menyetujui Suyudi sebagai calon Kapolri dalam uji kelayakan dan kepatutan pada Kamis (1/10/2026). Komisi III memberikan persetujuan secara aklamasi.

    “Alhamdulillah, kami masyarakat Banten merasa bangga. Beliau pernah menjadi Kapolda Banten dan kini dipercaya mengikuti proses untuk menjadi Kapolri. Tentu ini menjadi kebanggaan bagi masyarakat Banten,” ujar Embay dalam keterangan tertulisnya.

    LowonganKerja Banten

    Menurut Embay, pengalaman Suyudi saat memimpin Polda Banten menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya di kepolisian. Ia berharap Suyudi mempertahankan komunikasi dengan  pemerintah daerah, TNI, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan berbagai kelompok masyarakat saat memimpin Polri.

    “Kami mengapresiasi pengabdian beliau selama menjadi Kapolda Banten. Kedekatan dengan masyarakat dan kemampuan membangun sinergi merupakan hal yang penting untuk terus dipertahankan,” katanya.

    Suyudi sebelumnya menjabat Kapolda Banten. Setelah itu, ia memimpin Badan Narkotika Nasional (BNN) sebelum Presiden mengajukannya sebagai calon Kapolri untuk menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

    Embay juga menilai pengalaman Suyudi saat memimpin BNN dapat menjadi bekal dalam menjalankan tugas sebagai Kapolri, khususnya dalam mencegah dan memberantas penyalahgunaan serta peredaran gelap narkotika.

    “Semoga pengalaman beliau di kepolisian, ketika menjadi Kapolda Banten maupun saat memimpin BNN, menjadi bekal yang semakin kuat dalam menjalankan amanah berikutnya,” tuturnya.

    Dalam uji kelayakan dan kepatutan di DPR, Suyudi mengusung tema “Polisi Bersama Masyarakat”. Ia menyatakan kepemimpinan Kapolri harus membuka ruang bagi masyarakat untuk memberikan koreksi.

    Suyudi menyebut keberhasilan Polri antara lain dapat dilihat dari keamanan masyarakat, kemudahan dalam membuat laporan, kecepatan memberikan pertolongan, kepastian penanganan perkara, perlindungan terhadap korban, serta penerapan hukum yang adil.

    Embay berharap prinsip pelayanan dan kedekatan dengan masyarakat tersebut menjadi bagian dari kepemimpinan Suyudi setelah mendapat amanah sebagai Kapolri.

    “Kami mendoakan semoga beliau diberikan kekuatan, kesehatan, dan kemudahan. Apa pun amanah yang diberikan negara, semoga dapat dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat,” ucapnya.

  • Tokoh Banten Berharap Suyudi Bawa Pengalaman dari Banten ke Polri

    Tokoh Banten Berharap Suyudi Bawa Pengalaman dari Banten ke Polri

    Ketua Umum Mathlaul Anwar KH Embay Mulya Syarief. (Istimewa)

    SERANG – Tokoh masyarakat Banten Embay Mulya Syarief berharap Komjen Pol. Suyudi Ario Seto membawa pengalaman selama memimpin Polda Banten dalam menjalankan tugas sebagai Kapolri. Embay juga berharap Suyudi tetap menjaga kedekatan dengan masyarakat dan memperkuat sinergi dengan berbagai elemen.

    Embay menyampaikan harapan tersebut setelah Komisi III DPR menyetujui Suyudi sebagai calon Kapolri dalam uji kelayakan dan kepatutan pada Kamis (1/10/2026). Komisi III memberikan persetujuan secara aklamasi.

    “Alhamdulillah, kami masyarakat Banten merasa bangga. Beliau pernah menjadi Kapolda Banten dan kini dipercaya mengikuti proses untuk menjadi Kapolri. Tentu ini menjadi kebanggaan bagi masyarakat Banten,” ujar Embay dalam keterangan tertulisnya.

    LowonganKerja Banten

    Menurut Embay, pengalaman Suyudi saat memimpin Polda Banten menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya di kepolisian. Ia berharap Suyudi mempertahankan komunikasi dengan  pemerintah daerah, TNI, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan berbagai kelompok masyarakat saat memimpin Polri.

    “Kami mengapresiasi pengabdian beliau selama menjadi Kapolda Banten. Kedekatan dengan masyarakat dan kemampuan membangun sinergi merupakan hal yang penting untuk terus dipertahankan,” katanya.

    Suyudi sebelumnya menjabat Kapolda Banten. Setelah itu, ia memimpin Badan Narkotika Nasional (BNN) sebelum Presiden mengajukannya sebagai calon Kapolri untuk menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

    Embay juga menilai pengalaman Suyudi saat memimpin BNN dapat menjadi bekal dalam menjalankan tugas sebagai Kapolri, khususnya dalam mencegah dan memberantas penyalahgunaan serta peredaran gelap narkotika.

    “Semoga pengalaman beliau di kepolisian, ketika menjadi Kapolda Banten maupun saat memimpin BNN, menjadi bekal yang semakin kuat dalam menjalankan amanah berikutnya,” tuturnya.

    Dalam uji kelayakan dan kepatutan di DPR, Suyudi mengusung tema “Polisi Bersama Masyarakat”. Ia menyatakan kepemimpinan Kapolri harus membuka ruang bagi masyarakat untuk memberikan koreksi.

    Suyudi menyebut keberhasilan Polri antara lain dapat dilihat dari keamanan masyarakat, kemudahan dalam membuat laporan, kecepatan memberikan pertolongan, kepastian penanganan perkara, perlindungan terhadap korban, serta penerapan hukum yang adil.

    Embay berharap prinsip pelayanan dan kedekatan dengan masyarakat tersebut menjadi bagian dari kepemimpinan Suyudi setelah mendapat amanah sebagai Kapolri.

    “Kami mendoakan semoga beliau diberikan kekuatan, kesehatan, dan kemudahan. Apa pun amanah yang diberikan negara, semoga dapat dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat,” ucapnya.